Kesiapan mental seringkali menjadi pembeda antara juara dan pecundang dalam sebuah kompetisi olahraga yang ketat. Salah satu kendala terbesar yang dihadapi atlet sebelum masuk ke arena adalah lonjakan hormon kortisol yang dipicu oleh kecemasan. Untuk mengatasi hal ini, penggunaan protokol afirmasi yang digabungkan dengan kontrol fisik menjadi solusi yang sangat efektif. Teknik pernapasan diafragma terbukti secara medis mampu menurunkan detak jantung dan menenangkan sistem saraf simpatik yang tegang. Melalui riset olahraga yang dikembangkan bersama akademisi, para praktisi kini mulai menerapkan metode ini secara sistematis kepada para atlet mahasiswa guna memastikan mereka tetap tenang di bawah tekanan.
Pernapasan diafragma, atau sering disebut pernapasan perut, melibatkan penggunaan otot diafragma secara penuh untuk menarik oksigen jauh ke dalam paru-paru. Berbeda dengan pernapasan dada yang dangkal dan cepat (yang justru meningkatkan sinyal stres ke otak), pernapasan diafragma memicu respons relaksasi. Saat atlet melakukan tarikan napas dalam, saraf vagus akan terstimulasi, yang kemudian memerintahkan tubuh untuk menurunkan produksi kortisol. Kortisol yang terlalu tinggi dalam darah dapat menyebabkan kekakuan otot, hilangnya fokus, dan penurunan koordinasi motorik, yang semuanya sangat merugikan saat pertandingan dimulai.
Afirmasi positif yang diucapkan secara internal maupun lisan selama proses pernapasan ini berfungsi untuk memprogram ulang pikiran bawah sadar. Kata-kata seperti “saya tenang”, “saya siap”, atau “tubuh saya kuat” yang disinkronkan dengan ritme napas akan menciptakan perisai mental yang kuat. Protokol ini sebaiknya dilakukan 15 hingga 30 menit sebelum atlet melakukan pemanasan fisik. Dengan menurunkan level stres secara fisiologis, energi yang seharusnya terbuang karena kecemasan dapat dialihkan sepenuhnya untuk performa fisik di lapangan. Hal inilah yang kini menjadi fokus pembinaan mental di berbagai organisasi olahraga daerah.
