Carpal Tunnel Syndrome (CTS) terjadi ketika saraf median, yang membentang dari lengan bawah ke telapak tangan, tertekan di bagian pergelangan tangan. Bahaya penggunaan paddles yang ukurannya tidak sesuai atau teknik entry tangan yang salah ke permukaan air dapat meningkatkan tekanan di dalam lorong karpal. Rasa kesemutan, mati rasa, hingga kelemahan pada jari-jari tangan adalah gejala awal yang sering kali diabaikan oleh para atlet hingga kondisi tersebut menjadi parah.
Dampak Penggunaan Alat Latihan yang Tidak Proporsional
Alasan utama mengapa alat ini bisa berbahaya adalah karena ia memaksa pergelangan tangan untuk menahan beban air yang jauh lebih besar dari kapasitas alaminya. Saat seorang perenang menggunakan bilah plastik yang lebar, area permukaan tangan bertambah secara artifisial. Jika posisi pergelangan tangan tidak stabil atau sering “tertekuk” saat menarik air, saraf median akan terus menerus mengalami iritasi. Bapomi Aceh Besar sering menemukan kasus di mana atlet pemula menggunakan alat profesional tanpa pengawasan, yang berujung pada cedera saraf jangka panjang.
Ketegangan otot yang dihasilkan dari penggunaan alat bantu ini juga dapat menjalar hingga ke pangkal lengan. Hal ini menyebabkan aliran darah ke area tangan menjadi kurang optimal, memperparah kondisi peradangan pada jaringan ikat. Oleh karena itu, pemilihan ukuran alat yang sesuai dengan luas telapak tangan adalah langkah preventif yang paling krusial.
Strategi Pencegahan dari Bapomi Aceh Besar
Untuk meminimalisir risiko, Bapomi Aceh Besar menyarankan sistem latihan progresif. Atlet tidak diperbolehkan menggunakan alat bantu dalam durasi yang lama di awal program latihan. Penggunaan harus dibatasi, misalnya hanya 20% dari total jarak latihan harian, untuk memberikan waktu bagi jaringan lunak beradaptasi dengan beban baru. Selain itu, melakukan latihan fleksibilitas pergelangan tangan secara rutin sangat membantu menjaga ruang di dalam saluran karpal tetap longgar.
Edukasi mengenai posisi tangan yang netral saat melakukan catch dan pull juga menjadi fokus utama. Pelatih di bawah naungan Bapomi Aceh Besar ditekankan untuk selalu memantau mekanika tubuh atlet. Jika ditemukan tanda-tanda kebas atau hilangnya kekuatan cengkeraman, atlet wajib segera berhenti dan melakukan evaluasi medis untuk mencegah kerusakan saraf permanen.
