Menjelang waktu berbuka puasa, suasana di persimpangan jalan utama kota sering kali menjadi sangat padat dan terburu-buru. Di tengah hiruk-pikuk kendaraan yang mengejar waktu untuk sampai ke rumah, kehadiran para mahasiswa membawa nuansa kesejukan tersendiri. Melalui program Takjil On The Road, mereka hadir sebagai jembatan kebaikan bagi para pengendara yang masih terjebak di perjalanan saat azan magrib berkumandang.
Titik fokus kegiatan ini berada di lampu merah Meulaboh, sebuah lokasi strategis yang menjadi urat nadi mobilitas warga di Kabupaten Aceh Barat. Area ini dipilih karena tingkat kepadatan kendaraannya yang tinggi, di mana banyak pekerja kantoran, pengemudi angkutan umum, hingga kurir logistik sering kali tidak sempat mempersiapkan menu berbuka karena tuntutan pekerjaan. Aksi ini bukan sekadar membagikan makanan gratis, tetapi merupakan bentuk empati sosial yang nyata di ruang publik.
Manajemen aksi mahasiswa dalam pembagian takjil ini dilakukan dengan sangat disiplin agar tidak menimbulkan kemacetan baru. Mereka membagi tim menjadi beberapa sektor. Ada tim yang bertugas mengatur arus lalu lintas secara mandiri berkoordinasi dengan petugas, dan ada tim yang bertugas membagikan paket makanan saat lampu sedang berwarna merah. Kecepatan dan ketepatan menjadi kunci utama agar aktivitas berbagi ini tetap selaras dengan kelancaran lalu lintas di jantung kota.
Menu yang dibagikan pun dipilih dengan pertimbangan kesehatan dan kemudahan untuk dikonsumsi di atas kendaraan. Air mineral, kurma, dan kue-kue tradisional khas daerah menjadi pilihan utama. Pemilihan kuliner lokal juga bertujuan untuk melestarikan kekayaan pangan nusantara di tengah gempuran makanan instan. Para mahasiswa memastikan bahwa setiap paket yang diberikan memiliki standar kebersihan yang tinggi, mencerminkan identitas mereka sebagai kaum terpelajar yang mengutamakan kualitas dalam setiap aspek kerja sosial.
Fenomena di lampu merah Meulaboh ini juga menjadi ajang pembelajaran soft skill bagi para mahasiswa. Mereka belajar bagaimana berkomunikasi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang, mengelola logistik dalam waktu yang singkat, hingga bekerja di bawah tekanan kepadatan jalanan. Interaksi singkat antara mahasiswa dan pengendara—yang sering kali dihiasi dengan senyuman dan ucapan terima kasih—menjadi suntikan semangat yang tak ternilai bagi para aktivis kampus ini.
